Kamis, 02 Desember 2010

Makalah : Pendidikan Seks Pada Anak Usia Dini

Abstract : today, we have to be more alert because media and technology tend to facilitate free sex behavior, that more sophisticate and easy to access. One example is via cellular phone, with parent and government more permissive to it. Giving sex education early is because human basic character forming is at children age. Psychoanalyst shows that early years of children growth giving affect to children basic character growth. Wrong education can affect and became cause of sexual deviation on their next phase of life. Early age sex education can became mean of undeviating sexual apprehension and act, positively. Keywords: sexual education, early age.
Pendahuluan
Keresahan orangtua terhadap perkembangan free sex sudah sampai pada kondisi darurat yang harus mendapatkan penanganan khusus dari berbagai pihak terutama tokoh agama, aktivis pendidikan, dan pemerintah yang mendapatkan amanah dari rakyat untuk menyejahterakan dan membahagiakan kehidupan warga-bangsanya. Perhatian harus ditingkatkan karena perkembangan media dan fasilitas yang menjurus ke free sex saat ini semakin canggih, lengkap, dan mudah diakses oleh masyarakat miskin sekalipun. Fasilitas dan media yang berpotensi merusak moralitas generasi ini tidak berimbang dengan kebijakan dan tanggap darurat yang dimiliki oleh pemerintah juga tokoh-tokoh pendidikan dan agama. Perebutan dominasi ke arah kebebasan negatif dimungkinkan akan terjadi jika tidak segera dilakukan antisipasinya dengan cerdas.
Media elektronik semacam TV, video, CD, internet, HP, dan media cetak seperti koran, majalah, tabloid, foto, kartu, kertas stensilin yang berbau porno dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, dan semakin terbuka dan mudah, tanpa ada pengendalian yang memadai. Orangtua dan pemerintah semakin permisif dan seakan memberikan “dukungan”. Karenanya produk “kelam” ini cukup laris di pasaran.
Pelayanan mudah terkait dengan yang serba mesum bisa dipuaskan lewat lokalisasi, tempat remang-remang, konsultasi seks lewat sms, dan telepon, sampai pada pemanfaatan tempat rekreasi dan hotel atau penginapan. Sudah menjadi rahasia umum, kondisi ini didiamkan oleh pemerintah atau anggota legislatif yang menangani penertiban dan penyembuhan penyakit masyarakat itu. Teguran Tuhan dengan menurunkan berbagai penyakit kelamin yang ganas dan mematikan seperti HIV/AIDS belum direspon baik oleh manusia sehingga semua komponen belum kompak tergugah untuk bergerak bersama menyelamatkan bangsa dan generasi muda. 
Seks yang disanjung itu telah merambah ke berbagai kalangan. Karena itu, seks amat penting untuk disikapi lebih serius, terutama bagi anak-anak yang masih rentan dan mudah terpengaruh. Tulisan ini hendak mengkaji tentang pendidikan seks pada anak usia dini, sekitar usia prasekolah. Meskipun demikian, pembahasan ini bisa menyentuh pada wilayah anak-anak dan remaja karena masih berdekatan. Dasar ayat dan hadis tidak penulis tulis teksnya dalam makalah ini dengan harapan pembaca dapat mengkaji lebih jauh lewat beberapa referensi yang dipilih.

Mengapa Perlu Pendidikan Seks
Sebagaimana telah disebutkan bahwa perkembangan ilmu teknologi telah membuat dunia bagaikan “desa buana” yang segalanya serba transparan, mudah, dan cepat diakses oleh siapa, kapan, di mana saja. Informasi dan pengalaman seksual bisa diperoleh secara bebas, telanjang, dan tanpa filter. Hal ini bisa berpengaruh secara psikis bagi anak. Jika anak memperoleh informasi dan pengalaman tentang seks yang salah akan membuat beban psikis bisa mempengaruhi kesehatan seksualnya kelak. Anak-anak memiliki kebiasaan menirukan apa yang dilakukan oleh orang lain.
Sementara itu, penerapan teknologi tersebut telah menciptakan manusia mesin (I’homme machine) dalam masyarakat modern. Melalui perjalanan yang panjang, teknologi membentuk perilaku manusia mesin yang hidupnya hanya didasarkan pada stimulus (S) dan response (R) sebagaimana digambarkan dalam psikologi Behaviorism. Pribadi yang asalnya bebas, utuh, dan rasional bisa tenggelam dalam satuan yang disebut masyarakat massa. Massa menjadi satu-satunya entitas yang harus diperhitungkan. Manusia mesin, manusia, dan masyarakat massa itu menghasilkan budaya massa. Budaya massa itu, menurut Kuntowijoyo adalah produk dari mayoritas yang “tak berbudaya”, berbeda dengan budaya adiluhung yang dihasilkan oleh elite. Budaya ini diekspresikan dalam bentuk kesenian, buku-buku, elektronika, barang konsumsi, dan alat kebijaksanaan popular seperti bahasa gaul. Budaya massa telah menjadi komoditas, suatu commodity fethism, yang lebih menekankan selera kebutuhan konsumen.
Selain budaya massa yang memola dengan sangat jenius terhadap perilaku manusia, pendidikan seks perlu diberikan sejak dini karena terkait dengan libido seksual manusia itu sendiri. Meskipun demikian, ada yang berpendapat bahwa masa kanak-kanak tidak mengenal gairah seks. Teori Freud tentang libido berpendapat bahwa anak-anak menghisap jempol dianggap memiliki arti seksual, bahkan cinta anak kepada ibunya dianggap sesuatu yang berlandaskan seks dan dihubungkan dengan kecemburuan terhadap ayahnya. Kesimpulannya, kesadaran seksualitas sudah tubuh sejak masa kanak-kanak. Wacana lain yang lebih bijaksana juga bisa dipahami bila libido tidak saja dimaknai sebagai mendorong kegairahan seks, tetapi lebih luas, yaitu berarti “energi fisik”. Tendensi anak-anak untuk bermain-main terhadap alat kelaminnya bukan manifestasi seksual yang terlalu dini, tetapi sebagai “kesenangan fisik mendasar” yang sangat mengatur kehidupan kanak-kanak. Kepuasan fisik tersebut bisa diperoleh lewat isapan, buang air, stimulasi kulit, masturbasi, dan kesenangan untuk telanjang.
Pertimbangan lain, pendidikan seks diberikan lebih awal disebabkan karakter dasar manusia itu dibentuk pada masa kanak-kanak. Ahli Psikoanalisa telah membuktikan tentang pengaruh yang baik atau tidak baik pada tahun-tahun pertama terhadap pertumbuhan karakter dasar anak. Pendidikan yang salah dapat mempengaruhi perkembangan berbagai bentuk penyimpangan seksual pada masa-masa berikutnya. Pendidikan seks pada anak usia dini dimungkinkan dapat meluruskan pemahaman dan perilaku seks anak-anak sehingga bisa lebih positif.
Secara luas, penelitian Katharine Davies memperkuat sisi penting pendidikan seks ini. Hasil penelitian Katherine menunjukkan bahwa perempuan yang telah menerima pendidikan seks pada usia dini, 57% menikah dengan bahagia. Pendidikan seks berperan positif dalam membangun mahligai kehidupan keluarga yang lebih baik karena dalam prosesnya ada desain pembelajaran yang mempertimbangkan tentang kebaikan anak.
Pengertian dan Tujuan Pendidikan Seks
Pendidikan seks merupakan upaya transfer pengetahuan dan nilai (knowledge and values) tentang fisik-genetik dan fungsinya khususnya yang terkait dengan jenis (sex) laki=-laki dan perempuan sebagai kelanjutan dari kecenderungan primitif makhluk hewan dan manusia yang tertarik dan mencintai lain jenisnya. Pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran, dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan pada anak, dalam usaha menjaga anak terbebas dari kebiasaan yang tidak Islami serta menutup segala kemungkinan ke arah hubungan seksual terlarang. Pengarahan dan pemahaman yang sehat tentang seks dari aspek kesehatan fisik, psikis, dan spiritual.
Pendidikan seks merupakan upaya menindaklanjuti kecenderungan insting manusia. Laki-laki dengan dasar naluri insting sehatnya akan mencintai perempuan, dan jika mereka “mencintai selain perempuan” maka ia termasuk kelompok yang memiliki nafsu seksual menyimpang seperti kaum Luth (homo) yang dilaknat Tuhan. Pendidikan ini berusaha untuk mengenal penciptaan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan. Saling mengenal menuju ketakwaan kepada Tuhan.
Melalui pendidikan akan berkembang rasa cinta karena ada pengetahuan, pengenalan, dan pengertian yang baik terhadap jenis lain. Rasa cinta laki-laki yang sudah ‘mampu”, idealnya segera ditindaklanjuti dengan pernikahan sehingga bisa menciptakan hidup yang maslahah penuh ketenangan dan cinta kasih sesuai dengan insting kemanusiaannya
Pendidikan seks dapat mengantarkan pemahaman terhadap antar jenis bahwa manusia (laki-laki-perempuan) sama dihadapan Allah yang membedakan secara fisik hanya bentuk anatomi tubuh beserta fungsi reproduksinya saja sehingga karena perbedaan itu yang laki-laki bisa membuahi dan perempuan bisa dibuahi, hamil, dan melahirkan. Pada wilayah domestik dan publik kedua jenis kelamin ini harus saling melengkapi, menyempurnakan, dan mencintai untuk membangun ketakwaan dan keharmonisan hidup bersama dalam keluarga dan masyarakat. Pergolakan panjang dalam sejarah dan sampai kini yang masih dapat disaksikan adalah perempuan diposisikan sebagai barang yang bisa diperjualbelikan dan dimiliki seperti barang. Ekspresi laki-laki bahwa ia “memiliki perempuan” menyimpan dua makna; perempuan sebagai objek dan sebagai sesuatu yang arbiter tidak terlalu jelas dibedakan.
Secara garis besar, pendidikan seks diberikan sejak usia dini (dan pada usia remaja) dengan tujuan sebagai berikut;
1.      Membantu anak mengetahui topik-topik biologis seperti pertumbuhan, masa puber, dan kehamilan;
2.      Mencegah anak-anak dari tindak kekerasan;
3.      Mengurangi rasa bersalah, rasa malu, dan kecemasan akibat tindakan seksual;
4.      Mencegah remaja perempuan di bawah umur dari kehamilan;
5.      Mendorong hubungan yang baik;
6.      Mencegah remaja di bawah umur terlibat dalam hubungan seksual (seksual intercourse);
7.      Mengurangi kasus infeksi melalui seks;
8.      Membantu anak muda bertanya tentang peran laki-laki dan perempuan di masyarakat.
Teknik Pendidikan Seks
Strategi pendidikan seks, sebagaimana pendidikan dengan materi apapun, harus disesuaikan dengan tujuan, tingkat kedalaman materi, usia anak, tingkat pengetahuan dan kedewasaan anak, dan media yang dimiliki oleh pendidik. Apabila dikaitkan dengan budaya lokal, penjelasan harus tidak tercerabut dari tradisi lokal yang positif, moral, dan ajaran agama.
Secara edukatif, anak bisa diberi pendidikan seks sejak ia bertanya di seputar seks. Bisa jadi pertanyaan anak tidak terucap lewat kata-kata, untuk itu ekspresi anak harus ditangkap oleh orangtua atau pendidik. Clara Kriswanto, sebagaimana yang dikutip oleh Nurhayati Syaifuddin, menyatakan bahwa pendidikan seks untuk anak usia 0-5 tahun adalah dengan teknik atau strategi sebagai berikut.
1.      Membantu anak agar ia merasa nyaman dengan tubuhnya.
2.      Memberikan sentuhan dan pelukan kepada anak agar mereka merasakan kasih sayang dari orangtuanya secara tulus.
3.      Membantu anak memahami perbedaan perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan di depan umum seperti anak selesai mandi harus mengenakan baju kembali di dalam kamar mandi atau di dalam kamar. Anak diberi tahu tenang hal-hal pribadi, tidak boleh disentuh, dan dilihat orang lain.
4.      Mengajar anak untuk mengetahui perbedaan anatomi tubuh laki-laki dan perempuan.
5.      Memberikan penjelasan tentang proses perkembangan tubuh seperti hamil dan melahirkan dalam kalimat yang sederhana, bagaimana bayi bisa dalam kandungan ibu sesuai tingkat kognitif anak. Tidak diperkenankan berbohong kepada anak seperti “adik datang dari langit atau dibawa burung”. Penjelasan disesuaikan dengan keingintahuan atau pertanyaan anak misalnya dengan contoh yang terjadi pada binatang.
6.      Memberikan pemahaman tentang fungsi anggota tubuh secara wajar yang mampu menghindarkan diri dari perasaan malu dan bersalah atas bentuk serta fungsi tubuhnya sendiri.
7.      Mengajarkan anak untuk mengetahui nama-nama yang benar pada setiap bagian tubuh dan fungsinya. Vagina adalah nama alat kelamin perempuan dan penis adalah alat kelamin pria, daripada mengatakan dompet atau nama burung.
8.      Membantu anak memahami konsep pribadi dan mengajarkan kepada mereka kalau pembicaraan seks adalah pribadi.
9.      Memberi dukungan dan suasana kondusif agar anak mau berkonsultasi kepada orangtua untuk setiap pertanyaan tentang seks.
10.  Perlu ditambahkan, teknik pendidikan seks memberikan pemahaman kepada anak tentang susunan keluarga (nasab) sehingga memahami struktur sosial dan ajaran agama yang terkait dengan pergaulan laki-laki dan perempuan.
11.  Membiasakan dengan pakaian yang sesuai dengan jenis kelaminnya dalam kehidupan sehati-hari dan juga melaksanakan salat akan mempermudah anak memahami dan menghormati anggota tubuhnya.
Sebagaimana telah disebutkan, teknik pendidikan seks tersebut dilakukan dengan menyesuaikan terhadap kemampuan dan pemahaman anak sehingga teknik penyampaian dan bahasa amat perlu dipertimbangkan.
Guru Pendidikan Seks
Tugas mendidik anak pada dasarnya menjadi kewajiban kedua orangtua, tetapi karena berbagai keterbatasan, orangtua tersebut dibagi menjadi kerabat dekat, guru, ustadz, kiai, pendidik, beserta masyarakat lingkungan di mana anak tersebut tinggal.
Pada anak usia 0-5 tahun, peran orangtua dan guru PAUD menjadi dominan karena mobilitas mereka banyak berpusat pada keluarga dan PAUD. Di luar itu, anak usia dan berinteraksi dengan teman bermainnya yang sebaya dalam grupnya. Kebanyakan ibu yang mengambil peran lebih dibandingkan dengan yang lain. Ibu sebagai penjaga dan pendidik (seks) anak pada usia dini diharuskan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai terhadap materi dan strategi pembelajarannya.
Ibu dan perempuan yang pada umumnya sangat dekat dengan anak-anak memerlukan pendidikan yang cukup dan tidak bisa lagi ditolerir mereka hanya diajar oleh orangtua secara natural tanpa desain pembelajaran dan pendidikan yang memadai. Pendidikan perempuan yang berkualitas harus diupayakan terus-menerus jika masyarakat menginginkan kehidupan masa depannya menjadi lebih baik dan berperadaban
Penutup
Pendidikan seks terhadap anak usia dini membutuhkan pendalaman terhadap materi agar tepat sesuai kebutuhan, usia, dan tingkat pemahaman dan kedewasaan anak. Di samping itu, diperlukan strategi atau teknik penyampaian yang komunikatif-efektif. Sebagaimana petuah C.W. Longenecker kompetisi dalam mengarungi kehidupan tidak selamanya dimenangkan oleh orang yang kuat, tetapi seringkali diraih oleh orang yang berpikir untuk mengatur strategi. Selalu kreatif untuk mengatur strategi dalam rangka mencapai hidup yang lebih bahagia dan sejahtera
Kebahagiaan dan kesejahteraan tidaklah diwariskan, tetapi diusahakan. Banyak orang ilmuwan, tokoh populer, dan jaya dalam hidupnya, tetapi tidak mampu menelurkan generasi berkualitas sekaliber dirinya, tetapi banyak juga orang kebanyakan yang mampu mencetak generasi mulia dan brilian karena mau berpikir kreatif dengan mencoba strategi baru yang lebih baik untuk dirinya dan anak-anak atau generasinya. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar